Lompat ke isi

Lima C Singapura

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

"Lima C Singapura" yaitu cash (tunai), car (mobil), credit card (kartu kredit), condominium (rumah susun berupa kondominium), dan country club (klub kegiatan olahraga dan hiburan lainnya) adalah frasa dalam bahasa Inggris yang digunakan di Singapura untuk merujuk pada materialisme.[1] Frasa ini pertama kali dicetuskan sebagai lelucon sehari-hari pada dasawarsa 1990-an tentang aspirasi beberapa warga Singapura yang menunjukkan kecenderungan materialistis dengan terus-menerus berusaha mendapatkan harta benda dalam upaya untuk mengesankan orang lain.[2]

Ringkasan

[sunting | sunting sumber]

Cash biasanya merujuk pada daya beli ketimbang uang tunai fisik. Keamanan dan kemakmuran keuangan merupakan pertanda status di seluruh dunia dan bagi sebagian besar sejarah manusia modern, uang tunai merupakan tolok ukur nilai dan keberhasilan pribadi.

Tingkat kepemilikan mobil di Singapura sekitar 11%. Sebagai perbandingan, angkanya 50% di Uni Eropa dan 80% di Amerika Serikat.[3] Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah untuk menjadikan Singapura sebagai "masyarakat yang sedikit mobil" dan mengurangi ketergantungan mobil, hanya sekitar 33% rumah tangga warga Singapura dan penduduk tetap yang memiliki mobil di Singapura pada tahun 2023, turun dari 40% pada tahun 2013.[4]

Meskipun mobil berlimpah di sebagian besar negara dan tidak dianggap sebagai pertanda status (kecuali hanya untuk mobil mewah), pajak tinggi atas impor dan kepemilikan kendaraan bermotor (191% untuk kendaraan baru, pajak jalan tahunan berdasarkan ukuran mesin, dan harga pompa yang tinggi) dan sistem kuota yang mengharuskan pemilik untuk memperoleh Sertifikat Kepemilikan (Certificate of Entitlement, COE) yang mahal secara khas telah menjadikan kepemilikan mobil sebagai pertanda kekayaan di negara dengan keterbatasan lahan seperti Singapura.

Credit card

[sunting | sunting sumber]

Kartu kredit (credit card) merupakan pertanda kemakmuran yang terlihat. Lembaga pengatur keuangan, Otoritas Moneter Singapura,[5] telah menetapkan batas kredit pribadi tertinggi[6] sebesar dua bulan pendapatan untuk pendapatan pribadi kurang dari S$30.000, atau empat bulan pendapatan untuk semua orang lainnya. Bank biasanya menerbitkan berbagai jenis kartu tergantung pada batas kredit yang tersedia, yang mengaitkan daya tarik yang lebih besar dengan kartu yang menawarkan batas lebih tinggi.

Condominium

[sunting | sunting sumber]

Di Singapura, rumah susun yang dikembangkan secara pribadi (umumnya dikenal sebagai kondominium atau kondo) mencerminkan status kekayaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perumahan umum (HDB) yang merupakan rumah susun yang dibangun, dijual, dan disubsidi oleh pemerintah. Hingga 80% penduduk Singapura tinggal di perumahan umum di seluruh negeri, karena harga tanah di Singapura sangat mahal. Hal ini berarti rumah yang berdiri sendiri dan terkadang rumah dengan hak milik jarang ditemukan dan menandakan kemakmuran yang lebih besar, terutama bagi mereka yang sudah lama kaya.

Country Club

[sunting | sunting sumber]

Di Singapura, jumlah klub kegiatan olahraga dan hiburan lainnya (country club) yang sedikit menyebabkan biaya keanggotaan yang mahal. Akses terhadap keanggotaan country club dianggap sebagai indikator kekuasaan dan kekayaan.[7]

Lima C terkini

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2019, diketahui bahwa "Lima C terkini" telah muncul sejak dasawarsa 2010-an di kalangan pekerja kerah putih Singapura, dengan penekanan yang lebih rendah pada materialisme. Meskipun cash tetap dipertahankan, C lainnya kini dapat mencakup culture (berbudaya), credibility (terpercaya), career (pekerjaan), dan convenience (kenyamanan), di antara yang lainnya.[8]

Dalam sedaring surat kabar setempat bernama Today dikemukakan bahwa generasi baru Singapura kini kurang materialistis dan tidak terlalu menghargai Lima C yang asli, dan bahwa mereka telah mengistilahkan ulang hal yang dianggap sebagai keberhasilan dan hal yang lebih penting dalam hidup.[9] Seorang panelis menambahkan bahwa mereka kini memilih untuk bekerja di pekerjaan yang mereka sukai, dengan tujuan untuk "membuat perbedaan", ketimbang hanya bekerja untuk gaji.[9]

  1. Diarsipkan 13 October 2010 di Wayback Machine.
  2. Lai, Linette (16 April 2021). "5Cs? It's 3 new Cs such as caring for environment that resonate with young S'poreans: Heng Swee Keat | The Straits Times". www.straitstimes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 June 2022.
  3. "Car Ownership Singapore 2023". Diakses tanggal 16 December 2023.
  4. Loi, Esther (6 November 2023). "One-third of S'pore resident households own cars, down from 40 per cent a decade ago". The Straits Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 16 December 2023.
  5. Monetary Authority of Singapore
  6. Diarsipkan 7 June 2007 di Wayback Machine.
  7. Jordan (27 August 2019). "The Evolving Definition of the Five Cs of Singapore". HR ASIA (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 29 March 2023.
  8. Goh, Melissa (7 August 2019). "No condos and country clubs, here are the new 5Cs defined by Singaporeans". AsiaOne (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 June 2022.
  9. 1 2 Elangovan, Navelene. "Forget the 5Cs, young S'poreans want to make a difference, create impact with their work: TODAY webinar panellists". TODAY (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 19 June 2022.